maaf aku tak menuliskan salam pembuka layaknya surat cinta atau alamat penerima sperti surat dinas
kutakingin terlalu formal kau menanggapi rasa yang ingin aku bagi
lewat huruf yang kususun menyerupai warna ungu
dan kutunggangkan diatas pelepah kayu tipis
sebenarnya hanya satu kata dalam satu rasa yang ingin selalu kau tahu
tentang bagaimana aku resah mengingat masa tawa yang kemudian dibanjiri air mata
tentang siapa saja yang terluka melihat kita bergandeng mesra
lalu bagaimana cara mereka memperlakukan hatiku dengan menyakitimu
cinta, aku tak lagi mampu menyebut nama lain selainmu
bila saja waktu adalah pedang, kutikamkan dalam jantungku agar berhenti detak suaranya
karena namamu berdenyut seirama, sedang suaramu terdengar di kejauhan telinga, dan nafasku mencium aroma minyak wangimu. yang selalu kau taburkan dijeda mandi-berbajumu
maaf, kupun tak mampu tuliskan salam penutup
karena memang ku tak ingin menutup mata, hingga lelap membuai
dan kau hadir lagi, menyiksa rindu yang mencandu
kutakingin terlalu formal kau menanggapi rasa yang ingin aku bagi
lewat huruf yang kususun menyerupai warna ungu
dan kutunggangkan diatas pelepah kayu tipis
sebenarnya hanya satu kata dalam satu rasa yang ingin selalu kau tahu
tentang bagaimana aku resah mengingat masa tawa yang kemudian dibanjiri air mata
tentang siapa saja yang terluka melihat kita bergandeng mesra
lalu bagaimana cara mereka memperlakukan hatiku dengan menyakitimu
cinta, aku tak lagi mampu menyebut nama lain selainmu
bila saja waktu adalah pedang, kutikamkan dalam jantungku agar berhenti detak suaranya
karena namamu berdenyut seirama, sedang suaramu terdengar di kejauhan telinga, dan nafasku mencium aroma minyak wangimu. yang selalu kau taburkan dijeda mandi-berbajumu
maaf, kupun tak mampu tuliskan salam penutup
karena memang ku tak ingin menutup mata, hingga lelap membuai
dan kau hadir lagi, menyiksa rindu yang mencandu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar