aku melihat dalam remang dewi suci lamuni ombak dengan diam
gemuruhnya tak lebih mendebar dari degup jantungnya
perjalanannya terhenti di semenanjung harapan
kenapakah? tanya seorang bataraa
kuternoda amis garam bercampur keringat
padahal pagar nyawa kupasang dengan ruji, semisal semutpun tak dapat melewati
harapan menjadi kenangan
bahkan permaisuri langit tergoda fana
sedang diindahkan petuah sedikit saja
mana bisa kau sembunyikan anyir dari jenazah
kecuali kau menguburnya
atau kau hanyut bersama air mata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar