Rabu, 20 April 2011

Yang Kulewatkan

Telah dilewatkan rumput di tanah lapang yang meredam suara dendam, telah direkam gambaran dinding pengitar tanah lapang pula yang menggemakan celoteh alam. Gelegar petir meski tak ada yang menyindir, laguan hati rasanya getir, tiada se-tetes pun air hujan dari fajar kemarin, terserap jiwa menawarkan. Awan putih tertangkap oleh mataku merah. Tiada yang marah, gemetar dag dig dug disini kedigjayaan sempurna jadi lemah pasrah. Atau secepat hitungan mundur tiga dua satu. Membuat kaki berlari kemana letaknya pasti? Dimana saja kusinggahi sesal benar maaf kulakukan, imanku belum matang.Aku tak bela siapa-siapa, aku sayang semua.Lantai 2 Mutiara Cahaya, Slawi, 5 Jan 2011

Apa Lagi

Hendak apa lagi?
Mau dustai langkahku yang sudah kosong-kosong untuk merampas secercah harapan yang tinggal tersemat di jejak ini?

Perjalanan juga kosong

Hendak dimana lagi kurebahkan badan berbalut beban,
mustahil sekali terus-terus di jalan angin yang tlah terlukaApa lagi?
Apa lagi?
Kenapa aku yang dicecar tanya,
Kenapa aku yang dijejali timpalnya.
Kubukan pelaku, cuma saksi dari dua bola mata yang terluka melihat tingkahmu.

Disconnected

Di jam akhir-akhir tadiaku coba bermimpi
pada jalan dan alur yang lain
Meski sangsi.

Haha.
Jelas kudapat sanksi
berdiri satu kaki diatas janji mati sungguh-sungguh
yang hampir jatuh sebagian di sekian waktu
untung di bangunin lagi

Haha.
Mita,Maaf atas ke-disconnected-an ku.
Hampir nyasar kamu ya! :D

Bukan Sekedar Retorika, Delapan Dua

Waktu yang selalu kutunggu
dimasa tunasku untuk dapat kembali bertemu
dengan pengampu hariku yang masih lugu,
berdesir disekitar taman kupu-kupu,
di hatiku. Rona pertama,
delapan dua titik utama bahagia
yang penghuninya selalu bersedia menuntunku,
meski,
rambut satu dibelah tujuh pun harus dilalui.
segelintir, sekecil apapun bahagia
akan sama rata merasa. Rona kedua,
ketika sekelumit benalu
datang tumbuh mengganggu,
ber'istiwa sendiri-sendiri,
semuanya harus merasai mencoba konsekuen pada jalur
dimana semua ingin jadi satu berbaur. Apapun.
Kita mesti terikat erat
untuk satu tersungkup dengan kuat,
jangan biarkan sebutir pun nada indah
diam-diam lindap melumpuh dari utuh. Ayo! Berjuang bersama, cepat berkemas dari duka di 9 - 10 Februari 2011, serta berlanjut seterusnya. Harumkan sekolah kita dan bangsa!:@

DIA

Penuh dengan kekosong-kosongan nyawa
Sedang kau, jari, dan penamu menghembusi ruhnya
Kelentik-tajaman jiwa menyusun selaksa aksara di sana
Alam tulisan saja, tak nyata
tapi terang dan kegelap gulitaannya terasa.

Bertandang dipeluknya itu, kagum
Merasakan yang mati-mati jadi kisah hidup hidup
Seperti yang kudengar, ilalang ikut mengamini do'amu
Majas, rima, serta lainnya jadi penadah kosakata
Hasil kau curi dari suka duka hati

Salam

Ada Waktunya Bicara

aku melihat dalam remang dewi suci lamuni ombak dengan diam
gemuruhnya tak lebih mendebar dari degup jantungnya
perjalanannya terhenti di semenanjung harapan

kenapakah? tanya seorang bataraa
kuternoda amis garam bercampur keringat
padahal pagar nyawa kupasang dengan ruji, semisal semutpun tak dapat melewati

harapan menjadi kenangan
bahkan permaisuri langit tergoda fana
sedang diindahkan petuah sedikit saja
mana bisa kau sembunyikan anyir dari jenazah
kecuali kau menguburnya
atau kau hanyut bersama air mata

Hai Orang Asing

hai orang asing,
apakah kita pernah berjumpa dikedamaian senja?
atau saat pagi menuntun cahaya surya
mencipta bias warna yang jatuh di jendela

hai orang asing,
nyatakah benar wujudmu?
atau barangkali hanya igauan tidur kumelihat sinta
selingkuh mata sejurus kearahku
hingga tak sengaja jatuhkan jarum sanggul rambutnya

hai orang asing,
dapatkah kau lagi menjelma dalam lelap perjalanan?
sudikah kau melepas tabir gaib
yang menutupi kilau sorga dimuka wajah

hai orang asing,
bolehkah aku sekedar tahu alamat singgahmu
mungkin aku bisa mengirimkan sepiring
spagheti untukmu

SURAT BUAT KEKASIH

maaf aku tak menuliskan salam pembuka layaknya surat cinta atau alamat penerima sperti surat dinas
kutakingin terlalu formal kau menanggapi rasa yang ingin aku bagi
lewat huruf yang kususun menyerupai warna ungu
dan kutunggangkan diatas pelepah kayu tipis

sebenarnya hanya satu kata dalam satu rasa yang ingin selalu kau tahu
tentang bagaimana aku resah mengingat masa tawa yang kemudian dibanjiri air mata
tentang siapa saja yang terluka melihat kita bergandeng mesra
lalu bagaimana cara mereka memperlakukan hatiku dengan menyakitimu

cinta, aku tak lagi mampu menyebut nama lain selainmu
bila saja waktu adalah pedang, kutikamkan dalam jantungku agar berhenti detak suaranya
karena namamu berdenyut seirama, sedang suaramu terdengar di kejauhan telinga, dan nafasku mencium aroma minyak wangimu. yang selalu kau taburkan dijeda mandi-berbajumu

maaf, kupun tak mampu tuliskan salam penutup
karena memang ku tak ingin menutup mata, hingga lelap membuai
dan kau hadir lagi, menyiksa rindu yang mencandu

Selasa, 12 April 2011

Selamat Datang Cinta

telah tertabur bunga di atas hamparan pasir waktu
di tengah tengah samudra usia. kala surya berankjak meradu
apakah mawar. apakah melati. keduanya sama mewangi
karena lahir dari tanah yang sama. sama - sama benih di hati

dinda, begitu aku menyebutnya. kala mulai kusemai dan ia bernas
tangkai mudanya menyeruak di dinginnya pagi. saat langit tembaga muda
dan bilangan angka tak cukup untuk menghitung do'a
darinya untukku. dan dariku untuknya

selamat datang cinta. ini adalah dunia kita
dimana raut dan harta bukanlah prioritas utama
maka sudilah kiranaya. kau bersama - sama
merawat anak fajar kita
yang katamu. telah usai ku buahi. dan terlahir dari rahimmu

salam
cinta
|aku hanyalah buliran dihamparan pasir. tersapu ombak, tertiup angin pantai. dan kau adalah penguatku. walau tak sekokoh karang. kau mampu buatku berarti|CAMELIA FA|www.sajaksepasang.blogspot.com|